Mobil Sport 6 Roda, Kenapa Tidak?

13223288131010888827

Mobilnya, bannya, atau…………..pintunya? (gawkerasset.com)


Ya, kenapa tidak?  Sebuah mobil sport yang menggunakan 6 roda, akan membuat setiap kepala menoleh dan ternganga kagum. Ini bukan Ferrari, Lamborghini, Lotus atau Maserati,  tapi sebuah Covini, tepatnya Covini C6W.

Covini, nama pabrikan mobil asal Italia ini masih terdengar asing bagi sebagian besar dari kita. Tapi produk type ini,  C6W sudah diproduksi sejak 2005 sampai sekarang, dalam jumlah yang amat terbatas, 6-10 buah pertahun. Amat eksklusif!.

13223289811627286660
(gizmag.com)


Mobil ini mengusung mesin Audi 4.200 cc V8, dengan kecepatan maksimum 300km/jam,  spesifikasi yang sama dengan Audi Quattro RS5V8 .

Dengan kapasitas mesin kelas menengah seperti ini,  performancenya jangan dibandingkan dengan mobil sport kelas “otot” macam Chevy Corvette (7.300 cc) atau Dodge Viper yang 8.000 cc. Tapi kira-kira seimbang dengan sebuah Porsche 911 yang punya mesin 4.000 cc.

Mobil sport yang tidak tergolong bongsor (panjang 4,18m, lebar 1,99m dengan tinggi 1,08m) ini juga relatif ringan, hanya 1.150kg berkat bodynya yang terbuat dari serat fiber.

Tapi mengapa harus 6 roda?
Jelas, penggunaan 6 roda menjadikan mobil ini sebagai ‘eye-catcher’.  Salah satu faktor penting untuk para pengguna mobil jenis ini. You are what you drive, aren’t you?

Secara teknis penggunaan 4 roda depan menjanjikan pengendalian yang lebih baik. Kalau ban depan salah satunya meleduk (yang berarti petaka buat mobil konvensional 4 roda, apalagi mobil dengan penggerak roda depan FWD), mobil ini masih layak-kendali. Resiko aquaplaning, ban yang kehilangan traksi akibat menerjang genangan air juga bisa diperkecil. Dan, mengerem dengan 6 roda akan lebih baik daripada hanya 4 roda, kan?

Tapi penggunaan 6 roda juga bukannya tanpa handicap. 6 roda berarti 6 ban, 6 set shock absorber, 6 unit sistim rem, suatu pemborosan yang tidak perlu. Tapi, buat konsumen mobil ini, siapa peduli? Sama juga dengan ketidak-pedulian akan konsumsi BBM yang mestinya juga sama sekali tidak irit…..

Sebenanya konsep menggunakan 6 roda ini bukan barang baru. Pabrikan besar asal Amerika Serikat, Ford, sudah menampilkan mobil konsep mereka, Ford Seattle-ite dalam World Fair di New York 1963. Tapi mobil konsep ini tidak pernah diproduksi secara massal.

13223291121424520384
Ford Seattle-ite 1963 (driving-dutchman.com)


Tapi, Ferruccio Covini, sang pemilik dan desainer Covini C6W bilang bahwa  konsep mobilnya ini tidak mengekor pada Ford yang baru pada tahap prototype, tapi mengadopsi  teknologi yang dipakai oleh mobil balap F1  yang juga menggunakan 6 roda yang berlomba di ajang musim balapan 1976-1977,
Tyrrell P34.

Tyrrell Racing Organisation Team adalah salah satu konstuktor berpengaruh di ajang balap Formula 1 (F1). Eksis sejak 1958 sebelum dijual oleh pemiliknya Ken Tyrrell kepada British America Racing 1998. Tyrrell sukses mengantar Jackie Stewart menjadi juara dunia F1 tahun 1969, 1971 dan 1973.  Pada 1971 Tyrrell juga menjadi juara dunia Konstruktor.

Mobil P34 (Project no.34) ini adalah karya tim desainer yang dipimpin oleh Derek Gardner.  Penampilan mobil balap 6 roda ini adalah satu-satunya di ajang F1.  Sehingga P34 ini dijuluki sebagai mobil dengan Desain Paling Radikal sepanjang sejarah F1.

1322329307381899488
Jody Scheckter & Tyrrell P34, 1976 (project34.co.uk)


Didukung mesin V8 Ford Cosworth dengan sponsor utama perusahaan minyak Perancis Elf,  sulit untuk mengatakan performance mobil ini sebagai sebuah blunder, atau sekadar cari sensasi.  Tampil perdana di musim 1976, tim Tyrrell yang digawangi pebalap Jody Scheckter dan Patrick Depailler mampu duduk di peringkat 3 konstruktor. Bahkan di sirkuit Anderstorp, Swedia, Scheckter dan Depailler sukses finish di urutan 1 dan 2.  Musim 1977 Scheckter meninggalkan tim dan diganti Ronnie Peterson. Mobil P34 direvisi ulang menjadi P34B, yang lebih berat 30kg. Prestasi  P34B tidak terlalu sukses, dan proyek ini dihentikan tahun berikutnya karena terlalu mahal.

Kembali ke laptop, eh salah, ……………ke masalah mobil sport di atas.
Berapa sih harga yang harus ditebus untuk membawa pulang sebuah Covini C6W?

13223295161496989971
(gizmag.com)


Meskipun saya tidak sedang jualan, tapi untuk sekedar informasi….. bolehlah.
Konon, di Amrik sono, harga mobil ini berkisar di angka USD 400,000.  Dua kali lipat lebih mahal dibanding dengan sebuah Porsche 911 Carrera.  Kalau Bapak dan Ibu sekalian  berniat membawanya pulang ke Indonesia, paling tidak  siapkan dana lagi kira-kira sebesar 200% nya untuk PPN-BM.
Dan kalaulah sudah menjadi salah satu penghuni garasi Bapak dan Ibu, saya himbau untuk tidak keisengan membawanya jalan-jalan ke Tanah Abang, Pasar Senen atau tempat-tempat lain semacamnya. Saya kuatir……. Bener!.  Sumprit!
Kuatir kalau Angkot yang saya kendarai sekarang ini akan nyerempet mobil ini…..

Ahmad jayakardi
Sumber: http://teknologi.kompasiana.com

4 Milyar untuk DPR Kita yang Suka Bolos Sidang

13224592791295116707

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Sebagai karyawan yang bergelut di urusan HRD, saya cukup mengenal beberapa jenis mesin absensi yang menggunakan pemindai sidik jari. Meski tak ingat pasti aneka merk dan typenya, saya masih ingat awal tahun ini saya ditugaskan untuk mengadakan mesin absensi sidik jari untuk dipasang di beberapa site operasional perusahaan kami. Penawaran dari beberapa agen penjual mesin tersebut cukup beragam, tergantung pada fungsi dan feature yang tersedia serta tampilan report yang dihasilkan mesin tersebut. Dari yang termurah – mesin buatan China – seharga 2,5 jutaan per unit, sampai yang termahal sekitar 6 jutaan. 

Setelah mempelajari brosur, akhirnya kami memanggil salah satu agen yang menawarkan mesin dengan feature paling lengkap. Pihak agen pun melakukan presentasi dan kami menyampaikan kebutuhan kami untuk site yg memang karakteristik jam kerjanya cukup unik dan para pekerjanya umumnya berpendidikan rendah. Akhirnya kami sepakat dengan harga 6,5 juta per unit sudah termasuk penambahan/ modifikasi program khusus sesuai permintaan kami.

Beberapa hari kemudian barang dikirim, esoknya teknisinya datang ke lokasi dimana mesin akan dipasang. Lalu mereka meng-install program pada PC yang sudah kami sediakan. Tak perlu membeli PC baru dengan spesifikasi khusus. Cukup memanfaatkan PC yang sehari-hari dipakai staf kami untuk administrasi.

Selanjutnya tinggal staf kami memasukkan data nama karyawan, nomor induknya, unit kerjanya dan data lain sesuai kebutuhan. Mulailah dijadwalkan setiap karyawan diambil specimen sidik jarinya untuk dimasukkan ke dalam memory program. Setelah dilakukan verifikasi, maka mesin absensi pemindai sidik jari siap diaplikasikan setiap hari. Sebuah mesin kapasitasnya mampu menampung sampai 2500-an data. Dan karena jumlah pekerja kami di masing-masing site hanya berkisar 300-400 orang, maka mesin tersebut sebenarnya under capacity.

Teknologi memang mudah dan murah. Selain membuat segala urusan jadi lebih mudah, makin lama sebuah mesin/alat/piranti akan makin kecil dimensinya, makin ringan bobotnya, makin canggih performanya, namun makin murah harganya. Tengok saja PC, laptop, notebook/netbook, HP, BB atau smartphone jenis lainnya.

Tiap kali dirilis type baru, modelnya biasanya lebih handy dan harganya relatif lebih murah daripada type sebelumnya ketika pertama kali dirilis. Itu sebabnya saya terbelalak dan nyaris tak percaya ketika membaca running text di TV swasta bahwa biaya pengadaan mesin absensi elektronik di DPR mencapai 4 milyar!

Saya mikir, berapa banyak sih mesin absensi yang dibutuhkan Gedung DPR? Katakanlah setiap Fraksi minta disediakan 1 unit mesin absensi khusus untuk monitoring kehadiran saat rapat Fraksi dan diletakkan di ruang Fraksi, berarti butuh 9 unit mesin absensi. Lalu setiap Komisi minta 1 unit mesin yang khusus untuk sidang komisi dan dipasang di ruang Komisi, berarti perlu 11 unit mesin absensi. Satu lagi mesin absensi untuk diinstall diruang Rapat Paripurna. Semuanya ada 21 unit mesin absensi. Soal PC, cukup 1 saja sebagai server datanya. Semuanya tak akan sampai 200 juta rupiah sudah komplit dengan modifikasi program dan instalasi pemasangan mesin dan kabelnya. Sebab mesin ini bukanlah mesin yang rumit dan besar. Cukup melubangi tembok sedikit saja untuk memasang sekrup untuk menempelkan mesin ke dinding mesin, sudah bisa terpasang.

Sebuah sekolah SMK yang pernah saya kunjungi di Surabaya awal tahun 2008 lalu, sudah memasang alat ini di depan kelas. Tentu tak setiap kelas, tapi beberapa kelas memakai 1 unit mesin absensi. Dan sekolah itu SMK Negeri yang siswi-siswinya bukan anak orang berduit. Kalau 3 tahun lalu saja sebuah SMK yang tidak “kaya” bisa memasang peralatan tersebut untuk pencatatan absensi siswanya, artinya investasi untuk peralatan ini memang tidak mahal dan tidak perlu dukungan komputer canggih untuk mengoperasikannya.
Lalu, dari mana angka 4 milyar itu tiba-tiba muncul? Pikiran iseng saya timbul. Saya coba hitung ada 560 orang anggota DPR, dikalikan 6 juta rupiah, hasilnya 3,36 milyar. Ditambah mark up sana sini, bisalah dibulatkan jadi 4 milyar. Ooh.., rupanya Setjen DPR maunya memberikan 1 unit mesin absensi sidik jari kepada setiap anggota dewan yang terhormat. Jadi mereka bisa absen dari mana saja. Ketika masih tiduran di kamar pribadi di rumahnya, sambil kongkow di cafe sebuah mall, saat sedang bernegosiasi bisnis di resto sebuah hotel bintang 5, atau saat jalan-jalan di luar negeri. Jadi dijamin mereka selalu “hadir” rapat. Bukankah selama ini mereka sudah terbisa begitu? Fisiknya tidak ikut rapat, tapi tanda tangannya ada, lengkap! Raganya tidak hadir di Senayan, tapi komisi/tunjangan rapatnya tetap bisa diterima utuh!

Begitulah DPR, berlagak sadar dengan pentingnya pemantauan kehadiran anggotanya, tapi sebenarnya tak jauh-jauh dari urusan proyek pengadaan barang. Dan jangan ditanya kenapa harganya bisa semahal itu, toh rakyat sudah berkali-kali disuguhi tontonan pengadaan fasilitas untuk anggota DPR yang harganya tidak masuk akal. Masih ingat kan soal pembelian mesin cuci, laptop, dan terakhir rencana pembangunan komplek gedung baru yang akhirnya dibatalkan. Tapi bukan anggota DPR namanya kalo tidak cerdik mencari momentum. Kali ini, dengan dalih ingin menertibkan kehadiran anggotanya dalam rapat-rapat, siapa yang akan menghalangi rencana ini? Hmm…, sungguh rencana yg terpuji tapi dilakukan dengan kurang terpuji. Anehnya, belakangan ada beberapa anggota DPR yang menolak pembelian mesin absensi itu dan minta dibatalkan karena anggota DPR bukan pegawai yang harus absen, katanya. Nah lho!

Siapa tahu angka 4 milyar itu memang sengaja di buat, agar rakyat menolak dan lagi-lagi anggota DPR yang memang sangat pemalas dan sering mangkir dari tugasnya sebagai wakil rakyat, akan terbebas dari pantauan tingkat kehadirannya. Mestinya, jika memang harga 4 milyar ini dianggap terlalu besar, mestinya anggota DPR harus memanggil Setjen DPR yang menghitung anggarannya dan tanyakan kenapa harus sebesar itu?

Apa perlu studi banding ke luar negeri hanya untuk tahu berapa harga mesin absensi sidik jari? Bukankah cukup menggerakkan jari-jari di atas laptop canggih atau gadget terbaru yang mereka miliki, Oom Google akan membantu memberikan info terbaru soal harga mesin itu di pasaran. Jadi…, sebenarnya DPR emang punya tekad kuat untuk mendisiplinkan diri tanpa harus menghamburkan uang rakyat atau tidak?! Haruskah 4 milyar uang rakyat melayang hanya demi menertibkan wakil rakyat?! Atau…, biarkan saja mereka tetap malas dan sering mangkir, dengan alasan mesinnya kemahalan?! Saya cuma bisa berdecak sambil geleng-geleng kepala. Wakilku emang cerdik dan berakal bulus!

13224535301660369025


Ira Oemar
Sumber: http://politik.kompasiana.com

Kutai Kartanegara Bridge, Tacoma Narrow Bridge, Silver Bridge dan Peace River Bridge

Apa kesamaan empat jembatan pada judul di atas? Keempat-empatnya adalah jembatan tipe suspensi dan semuanya mengalami keruntuhan. Tacoma Narrow Bridge runtuh akibat tiupan angin, Silver Bridge runtuh akibat adanya keretakan sepanjang 2.5 cm pada salah satu pin  kabel sedang Peace River Bridge runtuh karena adanya pergeseran tanah. Nah, kalau jembatan Kutai Kartanegara, apa penyebabnya?

Runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara membuat aku teringat saat kuliah dulu, dimana aku dan beberapa teman dari Teknik Sipil membahas tentang pembangunan Jembatan Barelang. Mulai saat itulah aku tahu banyak tentang jembatan tipe suspensi.

Sekilas kalau melihat sisa puing-puing jembatan Kutai Kartanagara, kayaknya kabel-kabel vertikal terputus dari bagian atas. Tidak terlihat adanya sisa-sisa kabel vertikalnya yang menjuntai. Kayaknya memang biang keroknya adalah bagian clamp penyambung kabel vertikal, atau “Bahasa Jawa Krama Inggil”-nya vertical suspender. Terlebih TV One sempat menayangkankan gambar holder yang tergeletak di sisa jembatan dalam kondisi utuh.

Terus terang, aku belum sempat mempelajari lebih jauh. Tapi kalu melihat bentuk fisik jembatan, ada satu hal yang aku khawatirkan yaitu getaran akibat angin. Angin dapat membuat kaber vertikal bergetar sehingga klem yang menempel pada kabel utama (biasanya disebut Clamp Halp)  sedikit melintir (twisted).

Meskipun diplintir sangat sedikit sekali namun jika berlangsung terus menerus maka akan menimbukan beban lelah (fatique). Persis kalo kita memutuskan kawat dengan cara membengkokkan kawat berkali-kali.
Jika klem pada salah satu kabel rusak, kabel utama akan menggeliat kemudian merusak  kelm-klem yang lain yang pada dasarnya sudah kritis, mirip seperti reaksi berantai. Jika klem udah rusak maka holder bisa terlempar. Dari foto yang diunggah oleh Mas Indra Furwita, terlihat gambar holder yang masih utuh …

13224047521775162077

Juga sisa holder pada kabel utama yang cuma satu biji (harusnya dua biji alias sepasang), ada pula yang sudah hilang dua-duanya ….

1322404877873272116


Akh, sudahlah, ini cuma hipothesis, hasil yang bener ya tunggu dari BPPT ….
PS: Besok insya Allah saya buatkan gambar klemnya, buat temen-temen kompasianer yang belum mengerti vertical suspender … nyari lewat mbah google engga nemu juga nih!:

Berikut tambah yang sesuai yang sudah dijanjikan:

1322468007484614129


Kalo dari foto di atas, sekilas dapat terlihat bahwa kabel utama pada  Golden Bridge jauh lebih melengkung (curved) daripada kabel utama pada Jembatan Kuati Kartanegara. Inilah yang bikin penasaran, apakah kabel vertikal yang panjangnya hampir sama, tidak saling berresonansi saat salah satu kabel bergetar tertiup angin?
Berikut detail gambar tentang Clamp Halp dan  Holder pada vertical suspender:

 13224683901796536414


Alifadian Yuhaniz
Sumber: http://regional.kompasiana.com





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...