Showing posts with label Arkeologi. Show all posts
Showing posts with label Arkeologi. Show all posts

Piramida Garut Lebih Tua dari Piramida Mesir

Gunung Sadahurip, Garut. 
 Ini setelah diteliti secara intensif dan uji carbon dating, kata staf SBY, Andi Arief.

Tim Katastropik Purba menemukan fakta mengagetkan sehubungan dengan misteri piramida Garut, Jawa Barat. Dari hasil penelitian intensif dan uji karbon dipastikan bahwa umur bangunan yang terpendam dalam gunung wilayah Garut lebih tua dari Piramida Giza yang berada di Mesir.

Tim Katastropik Purba sebelumnya telah melakukan penelitian intensif atas dugaan adanya bangunan berbentuk piramida di Desa Sadahurip, dekat Wanaraja, Garut, Jawa Barat.

“Dari beberapa gunung yang di dalamnya ada bangunan menyerupai piramid, setelah diteliti secara intensif dan uji carbon dating, dipastikan umurnya lebih tua dari Piramida Giza,” terang Andi Arief, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, dalam keterangan tertulis pada 20 November 2011.

Sekadar catatan, Piramida Giza selama ini dikenal sebagai piramida tertua dan terbesar dari 3 piramida yang ada di Nekropolis Giza. Piramida ini diyakini sebagai makam Firaun, Dinasti keempat Mesir, Khufu, yang dibangun selama lebih dari 20 tahun pada kurun waktu sekitar tahun 2560 sebelum Masehi.



Temuan Mencengangkan

Dalam beberapa waktu ke depan, lanjut Andi, Tim Katastropik Purba akan melakukan paparan publik tentang temuan-temuannya tersebut. Tak hanya soal temuan piramida di Garut tersebut, tim ini nantinya juga akan memaparkan temuan istimewa di kawasan Trowulan, Batu Jaya, beberapa lokasi menhir di Sumatera dan lain-lain.

“Ada temuan mencengangkan tentang uji carbon dating pada 3 lapis kebudayaan di kawasan Trowulan yang terlanjur kita sebut Majapahit pada zaman sejarah masehi itu. Juga tentang temuan-temuan lapisan sejarah di Lamri, Aceh, dan sekitarnya,” terang Andi.

Atas temuan ini, sambungnya, Tim Katastropik Purba akan terus berkoordinasi lintas ilmu kebumian sehubungan dengan temuan-temuan sejarah bencana-bencana lokal dan global untuk dicari mitigasinya.

Tim tersebut juga akan terus berkoordinasi dengan bidang kepurbakalaan, antropologi, arkeologi, pakar budaya, ahli sejarah dan lainnya. (ren)

© VIVAnews


Plaza Kuno 5.500 Tahun Yang Lalu Ditemukan di Peru

Sebuah plaza bundar yang dibangun 5.500 tahun lalu telah ditemukan di Peru, dan para arkeolog yang terlibat dalam penggalian tealh menentukan bahwa tanggal karbon menunjukkan plaza itu merupakan salah satu bangunan tertua yang pernah ditemukan di Amerika. Satu tim ahli kekunoan Peru dan Jerman menemukan plaza itu, yang tersembunyi di bawah potongan lain arsitektur di reruntuhan yang dikenal sebagai Sechin Bajo, di Casma, 370 Km di utara Lima, ibukota Peru.


 
"Itu merupakan penemuan yang mengesankan, masyarakat ilmuwan dan arkeologi sangat senang," kata Cesar Perez, ilmuwan di Institut Kebudayaan Nasioal Peru yang mengawasi proyek tersebut. "Ini dapat mendesain kembali sejarah negara ini." Sebelum penemuan di Sechin Bajo, pakar arkeologi menganggap benteng kuno Caral Peru adalah salah satu dari yang tertua di belahan bumi Barat, umurnya sekitar 5.000 tahun.


 
Para ilmuwan mengatakan, Caral yang terletak beberapa jam jika ditempuh menggunakan mobil dari Sechin Bajo, merupakan satu dari enam tempat di dunia ( bersama dengan Mesopotamia, Mesir, Cina, India dan Mesoamerika ) dimana manusia memulai kehidupan di kota lima ribu tahun lalu. "Penentuan tanggal yang dilakukan oleh pakar arkeologi Jerman menyebutkan sekitar 5.500 tahun, tapi sebagian lainnya dapat lebih tua bergantung pada hal lainnya yang ditemukan," kata Perez. Sebelumnya penemuan terakhir yang terletak dekat Sechin Bajo hanya berusia 3.600 tahun. Ini adalah gambar ilustrasinya:


 
"Mereka telah sangat maju mengerti arsitektur dan bangunan. Ini dapat secara jelas terlihat dalam kenyataan bahwa material yang mereka gunakan bertahan sangat lama," Peter Fuchs, salah seorang arkeolog, mengatakan pada suratkabar El Comercio. Tempat pertemuan sosial yang Fuchs dan rekannya temukan ini dibangun dengan batu dan batako.

Ratusan tempat arkeologis banyak ditemukan di Peru, dan banyak puing dibangun oleh kebudayaann kerajaan Inca yang dulu sangat berkuasa, yang mencapai puncaknya pada abad ke-16, sesaat sebelum penakluk Spanyol datang ke tempat yang sekarang dikenal dengan nama Peru.


 
Sumber : k15m1s.wordpress.com

Humayun's Tomb di India

Bukti Cinta Seorang Istri

Oleh: Olenka Priyadarsani

Kisah cinta di India tidak hanya digambarkan lewat musik dan tarian seperti dalam film-film Bollywood. Ada banyak peninggalan sejarah yang menjadi saksi cinta, yang kini menjadi objek wisata menarik. Salah satu contohnya adalah Humayun’s Tomb (Pusara Humayun).

Bila Taj Mahal dibangun oleh suami untuk sang istri, Humayun's Tomb atau Pusara Humayun dibangun oleh istri untuk suaminya. Terletak di tepi Sungai Yamuna, Humayun's Tomb merupakan sebuah kompleks pekuburan besar dengan bangunan megah yang didominasi batu paras merah.




Kompleks ini dibangun pada 1562, atau sembilan tahun setelah kematian Kaisar Humayun. Sang istri, Hamida Banu Begum, kemudian juga dikuburkan di kompleks itu.

Walau sebuah pemakaman, Humayun’s Tomb (Warisan Dunia versi UNESCO 1993) menarik minat wisatawan. Ini merupakan pemakaman pertama di India yang dikelilingi taman indah.

Pusat dari kompleks ini tentu saja pusara Kaisar Humayun, raja Mughal ke-dua yang memerintah daerah yang kini menjadi Afghanistan, Pakistan, dan India bagian utara. Selain makam Humayun dan istrinya, Hamida, beberapa raja dan tokoh Mughal yang berpengaruh lainnya juga dimakamkan di situ.




Jangan membayangkan makam yang menyeramkan. Makam di sini tidak menakutkan, apalagi semuanya berada dalam bangunan megah yang sangat indah. Arsitektur bangunan-bangunan di Pusara Humayun merupakan kombinasi dari gaya Mughal dan Persia.

Bila sedikit menilik sejarah, Humayun's Tomb pernah dijadikan semacam benteng oleh Bahadur Shah Zafar, kaisar terakhir Mughal ketika India berjuang melawan Inggris pada tahun 1857. Selain itu pada 1947, Humayun's Tomb juga dijadikan tempat mengungsi bagi orang Muslim yang bermigrasi ke negara Pakistan (yang baru berdiri), setelah diputuskan pemisahan antara India dan Pakistan.




Walau mungkin menyimpan banyak duka dan luka di masa lalu, kini bukti cinta itu masih berdiri tegak. Dikelilingi oleh Charbagh atau kebun persegi empat bergaya Persia  selebar sekitar 13 hektar, warna merah bangunan sangat kontras dengan hijaunya kebun. Menurut saya, Humayun's Tomb merupakan salah satu situs sejarah yang paling indah di negara tersebut.

Selain makam-makam di bangunan utama, ada beberapa monumen lain di kompleks tersebut. Salah satu yang paling besar adalah makam dan masjid Isa Khan, seorang bangsawan Afgan yang dimakamkan di tempat itu justru 20 tahun lebih awal dari Humayun. Selain itu ada juga makam dan kebun Bu Halima, serta makam dan masjid Afsarwala yang berada di dekat pintu masuk.




Kompleks Humayun's Tomb terletak di Jalan Mathura, Nizamuddin East,  tidak terlalu jauh dari pusat kota New Delhi. Untuk pergi ke sana, Anda dapat memilih menaiki metro atau bus, tergantung di mana menginap. Mungkin paling fleksibel, seperti yang saya lakukan, adalah naik bajaj. Ongkos bajaj di India jauh lebih murah daripada di Jakarta, pastikan saja Anda menawar.

Bila berkesempatan mengunjungi Humayun's Tomb, Anda mungkin juga dapat berkunjung ke Purana Qila atau Old Fort yang didirikan oleh Kaisar Humayun pada tahun 1533.

Sumber: http://id.travel.yahoo.com

Rahasia Membangun Piramida Firaun





Oleh Abdul Daim Al-Kahil


Sejak lama para ilmuwan bingung bagaimana cara sebuah piramida dibangun. Hal ini karena teknologi mengangkat batu-batu besar yang bisa mencapai ribuan kilogram ke puncak-puncak bangunan belum ditemukan di zamannya. Apa rahasia di balik pembangunan piramida ini?

Dalam edisi tanggal 1 Desember 2006, Koran Amerika Times menerbitkan berita ilmiah yang mengkonfirmasi bahwa Firaun menggunakan tanah liat untuk membangun piramida! Menurut penelitian tersebut disebutkan bahwa batu yang digunakan untuk membuat piramida adalah tanah liat yang dipanaskan hingga membentuk batu keras yang sulit dibedakan dengan batu aslinya.

Para ilmuwan mengatakan bahwa Firaun mahir dalam ilmu kimia dalam mengelola tanah liat hingga menjadi batu. Dan teknik tersebut menjadi hal yang sangat rahasia jika dilihat dari kodifikasi nomor di batu yang mereka tinggalkan.

Profesor Gilles Hug, dan Michel Profesor Barsoum menegaskan bahwa Piramida yang paling besar di Giza, terbuat dari dua jenis batu: batu alam dan batu-batu yang dibuat secara manual alias olahan tanah liat.
Dan dalam penelitian yang dipublikasikan oleh majalah “Journal of American Ceramic Society” menegaskan bahwa Firaun menggunakan jenis tanah slurry untuk membangun monumen yang tinggi, termasuk piramida. Karena tidak mungkin bagi seseorang untuk mengangkat batu berat ribuan kilogram. Sementara untuk dasarnya, Firaun menggunakan batu alam.

Piramida, dan lumpur yang sudah diolah menurut ukuran yang diinginkan dibakar untuk diletakkan di tempat yang paling tinggi.

Lumpur tersebut merupakan campuran lumpur kapur di tungku perapian yang dipanaskan dengan uap air garam dan berhasil membuat uap air sehingga membentuk campuran tanah liat. Kemudian olahan itu dituangkan dalam tempat yang disediakan di dinding piramida.


Profesor Davidovits telah mengambil batu piramida yang terbesar untuk dilakukan analisis dengan menggunakan mikroskop elektron terhadap batu tersebut dan menemukan jejak reaksi cepat yang menegaskan bahwa batu terbuat dari lumpur. Selama ini, tanpa penggunaan mikroskop elektron, ahli geologi belum mampu membedakan antara batu alam dan batu buatan.


Dengan metode pembuatan batu besar melalui cara ini, sang profesor membutuhkan waktu sepuluh hari hingga mirip dengan batu aslinya.

Sebelumnya, seorang ilmuwan Belgia, Guy Demortier, telah bertahun-tahun mencari jawaban dari rahasia di balik pembuatan batu besar di puncak-puncak piramida. Ia pun berkata, “Setelah bertahun-tahun melakukan riset dan studi, sekarang saya baru yakin bahwa piramida yang terletak di Mesir dibuat dengan menggunakan tanah liat.”

Selama ini, ilmuwan hanya mempunyai jawaban yang fiktif soal cara membangun piramida Firaun. Bagaimana mengangkat batu-batu besar yang jumlahnya mencapai 2,8 juta batu. Waktu itu, mereka menyatakan secara fiktif bahwa orang Mesir kuno memiliki kemampuan mengangkat jutaan batu yang beratnya sekitar lima atau enam ribu kilogram!


Penemuan oleh Profesor Prancis Joseph Davidovits soal batu-batu piramida yang ternyata terbuat dari olahan lumpur ini memakan waktu sekitar dua puluh tahun.


Sebuah penelitian yang luas tentang piramida Bosnia, "Piramida Matahari" dan menjelaskan bahwa batu-batunya terbuat dari tanah liat! Ini menegaskan bahwa metode ini tersebar luas di masa lalu. (Gambar dari batu piramida).


Sebuah gambar yang digunakan dalam casting batu-batu kuno piramida matahari mengalir di Bosnia, dan kebenaran ilmiah mengatakan bahwa sangat jelas bahwa metode tertentu pada pengecoran batu berasal dari tanah liat telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu dalam peradaban yang berbeda baik Rumania atau Firaun!


Alquran Ternyata Lebih Dulu Punya Jawaban

Jika dipahami lebih dalam, ternyata Alquran telah mengungkapkan hal ini dari beberapa ayat-ayat yang Allah firmankan. Antara lain:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ

“Dan berkata Fir'aun: ‘Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang Tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa Dia Termasuk orang-orang pendusta." (Al-Qashash:38)

Ayat ini menunjukkan rahasia dari teknologi konstruksi yang digunakan untuk bangunan tinggi sebuah monumen seperti disebutkan “buatkanlah untukku bangunan yang Tinggi”. Teknik ini didasarkan pada lumpur dan panas seperti dalam ayat: “Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat!”

Subhanallah! Ada bukti yang menunjukkan bahwa patung-patung raksasa dan tiang-tiang yang ditemukan dalam peradaban Rumania dan yang lainnya juga dibangun dari tanah liat! Dapat dikatakan: bahwa keajaiban Al Qur'an menunjukkan cara untuk membangun bangunan-bangunan dari tanah liat dan ini yang tidak diketahui pada waktu turunnya Alquran hingga zaman modern saat ini.


Siapa yang memberitahukan kepada Nabi saw tentang berita ini?


Al-Quran adalah kitab pertama yang mengungkapkan rahasia bangunan piramida, bukan para Ilmuwan Amerika dan Perancis. Pertanyaannya adalah:
Kita tahu bahwa Nabi saw tidak pergi ke Mesir dan tidak pernah melihat piramida, bahkan mungkin tidak pernah mendengar tentangnya. Kisah Firaun, terjadi sebelum masa Nabi saw ribuan tahun yang lalu, dan tidak ada satupun di muka bumi ini pada waktu itu yang mengetahui tentang rahasia piramida. Sebelum ini, para ilmuwan tidak yakin bahwa Firaun menggunakan tanah liat dan panas untuk membangun monumen tinggi kecuali beberapa tahun belakangan ini.

Bagaimana Nabi saw sebelum 1400 tahun yang lalu memberitahukan bahwa Firaun menggunakan tanah liat dan panas untuk membangun monumen ...

Ayat ini sangat jelas dan kuat membuktikan bahwa nabi Muhammad saw tidaklah membawa apapun dari padanya tetapi Allah yang menciptakan Firaun dan menenggelamkannya, dan Dia pula yang menyelamatkan nabi Musa ... Dan Dia pula yang memberitahukan kepada Nabi-Nya akan hakikat ilmiah ini, dan ayat ini menjadi saksi kebenaran kenabiannya pada zaman modern ini!!

Subhanallah! Ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai akal.

www.eramuslim.com

Misteri Dibalik Pembangunan Candi Borobudur

Candi Borobudur adalah candi terbesar peninggalan Abad ke 9. Candi ini terlihat begitu impresif dan kokoh sehingga terkenal seantero dunia. Peninggalan sejarah yang bernilai tinggi ini sempat menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia.



Namun tahukah Anda bahwa seperti halnya pada bangunan purbakala yang lain, Candi Borobudur tak luput dari misteri mengenai cara pembuatannya? Misteri ini banyak melahirkan pendapat yang spekulatif hingga kontroversi.

Dengan beberapa catatan dan referensi yang terbatas, saya coba menganalisis dan sedikit menguak tabir misteri pembuatan candi ini yang ternyata tidak perlu di-misteri-kan!


Desain Candi
 



Candi Borobudur memiliki struktur dasar punden berundak, dengan enam pelataran berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa.

Candi Borobudur didirikan di atas sebuah bukit atau deretan bukit-bukit kecil yang memanjang dengan arah Barat-Barat Daya dan Timur-Tenggara dengan ukuran panjang ± 123 m, lebar ± 123 m dan tinggi ± 34.5 m diukur dari permukaan tanah datar di sekitarnya dengan puncak bukit yang rata.




Candi Borobudur juga terlihat cukup kompleks dilihat dari bagian-bagian yang dibangun. Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 504 arca yang melengkapi candi.


Material Penyusun Candi
 
Inti tanah yang berfungsi sebagai tanah dasar atau tanah pondasi Candi Borobudur dibagi menjadi 2, yaitu tanah urug dan tanah asli pembentuk bukit. Tanah urug adalah tanah yang sengaja dibuat untuk tujuan pembangunan Candi Borobudur, disesuaikan dengan bentuk bangunan candi.

Menurut Sampurno Tanah ini ditambahkan di atas tanah asli sebagai pengisi dan pembentuk morfologi bangunan candi. Tanah urug ini sudah dibuat oleh pendiri Candi Borobudur, bukan merupakan hasil pekerjaan restorasi. Ketebalan tanah urug ini tidak seragam walaupun terletak pada lantai yang sama, yaitu antara 0,5-8,5 m.




Batuan penyusun Candi Borobudur berjenis andesit dengan porositas yang tinggi, kadar porinya sekitar 32%-46%, dan antara lubang pori satu dengan yang lain tidak berhubungan.

Kuat tekannya tergolong rendah jika dibandingkan dengan kuat tekan batuan sejenis. Dari hasil penelitian Sampurno (1969), diperoleh kuat tekan minimum sebesar 111 kg/cm2 dan kuat tekan maksimum sebesar 281 kg/cm2. Berat volume batuan antara 1,6-2 t/m3.
 
 
Misteri Cara Membangun Candi
 
Data mengenai candi ini baik dari sisi design, sejarah, dan falsafah bangunan begitu banyak tersedia. Banyak ahli sejarah dan bangunan purbakala menulis mengenai keistimewaan candi ini.

Hasil penelusuran data baik di buku maupun internet, tidak ada satupun yang sedikit mengungkapkan mengenai misteri cara pembangunan candi. Satu-satunya informasi adalah tulisan mengenai sosok Edward Leedskalnin yang aneh dan misterius.

Dia mengatakan “Saya telah menemukan rahasia-rahasia piramida dan bagaimana cara orang Mesir purba, Peru, Yucatan dan Asia (Candi Borobudur) mengangkat batu yang beratnya berton-ton hanya dengan peralatan yang primitif.”

Edward adalah orang yang membangun Coral Castle yang terkenal. Beberapa orang lalu memperkirakan bagaimana cara kerja dia untuk mengungkap misteri tentang pengetahuan dia bagaimana bangunan purba dibangun.

Akhirnya didapat foto yang berhasil diambil pada waktu Edward mengerjakan Coral Castle menunjukkan bahwa ia menggunakan cara yang sama yang digunakan oleh para pekerja modern, yaitu menggunakan prinsip yang disebut block and tackle.

Beda Coral Castle beda pula Candi Borobudur. Coral Castle masih menungkinkan menggunakan Block dan Tackle. Untuk Candi Borobudur rasanya block dan tackle pun masih belum ada. Lalu bagaimana sebenarnya cara membuat Candi ini?.

Candi ini lebih bernilai dan terkenal bukan pada misteri-misteri yang berserakan, tapi candi ini memiliki nilai design aristektur dan teknik sipil serta kemampuan manajemen proyek yang tinggi yang menunjukkan kemajuan pemikiran para pendahulu bangsa kita. Kita patut bangga!!!
Misteri yang belum terungkap berdasarkan informasi di atas. Saya coba mulai berfikir ulang terlepas dari misteri dengan mencoba menganalisis data-data yang ada

Sumber: http://palingseru.com


Istana Ratu Boko

ratuboko


Istana Ratu Boko adalah situs purbakala yang merupakan komplek sejumlah sisa bangunan yang berada kira-kira 3 km di sebelah selatan dari komplek Candi Prambanan, 18km sebelah timur Kota Yogyakarta atau 50km barat daya Kota Surakarta. Luas keseluruhan komplek adalah sekitar 25ha.

Situs ini diperkirakan sudah dipergunakan orang pada abad ke-8 pada masa Wangsa Sailendra (Rakai Panangkaran) dari Kerajaan Medang (Mataram Hindu). Dilihat dari pola peletakan sisa-sisa bangunan, diduga kuat situs ini merupakan bekas keraton (istana raja).


0827wis3


Nama “Ratu Boko” sendiri didasarkan dari legenda masyarakat setempat. Ratu Boko (harafiah berarti “raja bangau”) adalah ayah dari Loro Jonggrang (yang diberikan menjadi nama candi utama pada komplek Candi Prambanan).

Secara administratif, candi ini berada di wilayah Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta dan terletak pada ketinggian hampir 200m di atas permukaan laut.

Situs Ratu Boko pertama kali dilaporkan oleh Van Boeckholzt pada tahun 1790, yang menyatakan terdapat reruntuhan kepurbakalaan di atas bukit Ratu Boko. Bukit ini sendiri merupakan cabang dari sistem Pegunungan Sewu, yang membentang dari selatan Yogyakarta hingga daerah Tulungagung. Seratus tahun kemudian baru dilakukan penelitian yang dipimpin oleh FDK Bosch, yang dilaporkan dalam Keraton van Ratoe Boko. Dari sinilah disimpulkan bahwa reruntuhan itu merupakan sisa-sisa keraton.



istana ratu boko


Sebuah prasasti kuno yang dibuat oleh Rakai Panangkaran pada tahun 746-784 Masehi mengatakan bahwa pada awalnya bangunan yang ada di kawasan Wisata Kraton Ratu Boko disebut Abhayagiri Wihara. Abhaya berarti tidak ada bahaya sedangkan Giri berarti bukit/gunung. Wihara mempunyai arti asrama/tempat. Dengan demikian Abhayagiri Wihara berarti asrama/wihara para biksu agama Buddha yang terletak di atas bukit dengan penuh kedamaian.

Prasasti Abhayagiri Wihara yang berangka tahun 792 M merupakan bukti tertulis yang ditemukan di situs Ratu Boko.Dalam prasasti ini antara lain menyebut seorang tokoh bernama Tejahpurnapane Panamkarono. Nama tokoh ini kemungkinan sama dengan Rakai Panangkaran yang disebut dalam prasasti Kalasan 779 M, Prasasti Montyasih 907 M dan Prasasti Wanna Tengah III 908 M. Apabila dugaaan ini benar, maka Rakai Panangkaran adalah seorang Raja dan Syailendra yang terbesar dan paling lama memerintah. Rakai Panangkaran mengundurkan diri sebagai Raja karena menginginkan ketenangan rohani dan memusatkan pikiran pada masalah keagamaan, salah satunya dengan mendirikan wihara yang bernama Abhayagiri Wihara pada tahun 792 M. Hasil karya Rakai Panangkaran pada masa pemerintahannya adalah membangun candi Borobudur, Candi Sewu dan Candi Kalasan.Rakai Panangkaran menganut agama Buddha demikian juga bangunan tersebut disebut Abhayagiri Wihara adalah berlatar belakang agama Buddha, sebagai buktinya adalah : adanya Arca Dyani Buddha. Namun demikian ditemukan pula unsur – unsur agama Hindhu di situs Ratu Boko Seperti adanya Arca Durga, Ganesha dan Yoni.


Ratu-Boko-3


Prasasti penting lainnya adalah Prasasti Siwagrha yang di buat pada Tahun 856 M, dimana dalam prasasti Siwagrha disebutkan tentang adanya seorang raja yang mengundurkan diri dan menyerahkan tahta kepada anaknya yaitu Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala. Dan prasasti Mantyasih 907 M menyebutkan bahwa raja yang berkuasa sebelum Rakai Kayuwangi adalah Rakai Pikatan yang merupakan seorang penganut agama Hindhu yang berhasil mempersatukan 2 kerajaan yang pernah berkuasa di Jawa Tengah melalui sebuah “Perkawainan Politik”.

Rakai Pikatan dari Dynasty Sanjaya kawin dengan Pramudawardani anak Samaratungga, Raja terakhir dari Dynasty Syailendra yang beragama Buddha. Setelah menjadi satu – satunya Raja di Jawa Tengah, iapun lalu membangun Candi Prambanan yang diresmikan pada tahun 856 M. Peresmian ini diperingati dalam prassasti Siwagrha seperti tersebut di atas, dan oleh karena itu Situs Ratu Boko merupakan perpaduan antara adanya pengaruh agama Buddha dan Hindhu.

Benda – benda peninggalan yang ada di lokasi Situs ini mempunyai kekhususan dan keunikan tersendiri sehingga menimbulkan perbedaaan dari benda – benda arkheologi di masa yang sama. Tidak diketahui secara pasti dari mana asal nama Ratu Boko, namun menurut cerita tutur dari masyarakat setempat, nama itu diberikan berdasarkan cerita legenda “Ratu Boko”, ayah dari Roro Jonggrang.


ratu-boko-kolam-3


Pada tahun 1989 – 1990, P. Subroto dalam risetnya menyimpulkan bahwa terdapat beberapa kemiripan antara komponen – komponen yang ada di Situs Ratu Boko dengan beberapa istana kuno di India. Namun apa fungsinya, tidak diketahui secara pasti hingga kini. Apakah bangunan tesebut merupakan sebuah taman kerajaan, istana raja, benteng pertahanan ataukah sebuah biara? Hingga kini masih merupakan misteri.

Situs Ratu Boko berada di Kawasan wisata budaya, 3 Km sebelah selatan Candi Prambanan dan terletak di atas bukit. Dari situs ini dapat dilihat keelokan Candi Prambanan dan Candi Sewu dari atas bukit yang dilatarbelakangi oleh Gunung Merapi. Dilihat dari tinggalan arkheologi yang ada situs Ratu Boko mempunyai corak dan karakter tersendiri bila dibandingkan dengan arkheologi lainnya di Indonesia. Hal ini dapat di lihat adanya beberapa bangunan seperti : Gapura Utama, Candi, Kolam, Gua, Pagar dan Alun – alun.

Melihat bukti – bukti tinggalan kepurbakalaan seperti itu, FDK Bosch dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa situs Ratu Boko merupakan sebuar Keraton yang artinya tempat / istana Raja, dimana hal itu mengindikasikan bahwa situs ini merupakan sebuah pemukiman dan pusat pemerintahan pada masa lalu.


situs ratu boko


Kawasan Situs Ratu Boko si bagi menjadi beberapa bagian :
Kelompok Pertama :
Berbentuk 3 buah gapura yang saling berdekatan satu sama lain, berdiri dari arah utara ke selatan. Gapura yang di tengah adalah yang terbesar dan merupakan gapura utama, diapit oleh 2 buah gapura lainnya yang disebut gapura apit.

Kelompok kedua :
Berbentuk 5 buah gapura. 4 buah gapura kecil mengapit sebuah gapura yang paling besar, yang disebut Gapura Utama Kedua.

Temple of limestone
Berbentuk sebuah pondasi dengan ukuran 5 x 5 meter persegi, terbuat dari Limestone. Pondasi ini terletak disebelah timur Laut, sekitar 45 meter dari Gapura Utama Pertama.

Temple of Incineration
Terletak di sebelah Timur Laut, sekitar 37 meter dari Gapura Utama Kedua. Bangunan ini mempunyai panjang 26 meter, lebar sekitar 26 meter dengan ketinggian 3 meter dan terbuat dari batu kali. Di lokasi ini di temukan juga sebuah sumur berukuran 4 x 4 meter persegi di tengah – tengah teras kedua dengan sebuah anak tangga di sisi barat. Sebuah kolam dengan panjang 2 meter dan lebar 1 meter juga di temukan di sebelah tenggara dari sumur tersebut.

Kelompok Paseban
Bentuk bangunan lain yang dapat ditemukan adalah bentuk lantai yang menghampar dari utara ke selatan. Puing – puing dari Gapura, pagar tembok dan slope juga ditemukan di tempai ini.
Kelompok Pendopo
Pondasi berukuran panjang 20 meter, lebar 20 meter dan tinggi 1,25 meter. Terletak di bagian sisi utara. ( 20 round pedestals are found on the floor).

Pondasi Pringgitan
Bantuan panjang 20 meter, lebar 6 meter dan tinggi 1,25 meter. Terletak di sebelah Selatan. Dua bangunan pondasi tersebut dikelilingi oleh pagar sepanjang 40 meter, lebar 36 meter dan tinggi 3 meter ( with decorations having the shape of buds above it). Pagar tersebut mempunyai atap, disisi utara, selatan dan barat. 3 anak tangga di buat untuk naik ke pondasi tersebut.

Pondasi Bangunan Publik
Terletak di sisi luar pagar, sekitar 1,5 meter kearah timur. Berukuran panjang 38 meter, lebar 7 meter dan tinggi 1.5 meter dari arah Utara ke Selatan. Terdapat 4 tangga di sisi Barat (20 pedestals are found on its floor). Terdapat juga 4 grooves yang mungkin di gunakan sebagai tembok partisi.

Candi – candi Kecil
Terletak di sebelah Tenggara dari Pendopo dan di apit oleh 2 buah candi apit. Yang dityengah adalah Candi terbesar dan utama.

Keputran
Terdiri dari sebuah kolam bebrbentuk persegi panjang dengan ukuran 31 x 8 meter, di kelilingi oleh pagar dengan 2 buah gapura di sisi Barat Daya dan Timur Laut. Lantai dasar dari bangunan tersebut bebentuk bujur sangkar dengan ukuran 20 x 20 meter dan terdapat ( 28 pedestals) di lantainya.

Gua
Di situs ini terdapat beberapa gua terletak di sebelah selatan dari lereng perbukitan batu. Gua yang berada di bagian atas oleh masyarakat setempat di kenal dengan sebutan Gua Lanang, sedang gua yang dibawahnya disebut Gua Wadon. Untuk menuju ke masing – masing gua dihubungkan oleh sebuah tangga yang langsung di pahatkan pada sebuah tebing. Di depan Gua Lanang dterdapaty sebuah kolam berbentuk segi empat.


kolam pemandian


Berbeda dengan peninggalan purbakala lain dari zaman Jawa Kuno yang umumnya berbentuk bangunan keagamaan, situs Ratu Boko merupakan kompleks profan, lengkap dengan gerbang masuk, pendopo, tempat tinggal, kolam pemandian, hingga pagar pelindung.

Berbeda pula dengan keraton lain di Jawa yang umumnya didirikan di daerah yang relatif landai, situs Ratu Boko terletak di atas bukit yang lumayan tinggi. Ini membuat kompleks bangunan ini relatif lebih sulit dibangun dari sudut pengadaan tenaga kerja dan bahan bangunan. Terkecuali tentu apabila bahan bangunan utamanya, yaitu batu, diambil dari wilayah bukit ini sendiri. Ini tentunya mensyaratkan terlatihnya para pekerja di dalam mengolah bukit batu menjadi bongkahan yang bisa digunakan sebagai bahan bangunan.

Kedudukan di atas bukit ini juga mensyaratkan adanya mata air dan adanya sistem pengaturan air yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kolam pemandian merupakan peninggalan dari sistem pengaturan ini; sisanya merupakan tantangan bagi para arkeolog untuk merekonstruksinya.

Posisi di atas bukit juga memberikan udara sejuk dan pemandangan alam yang indah bagi para penghuninya, selain tentu saja membuat kompleks ini lebih sulit untuk diserang lawan.

Keistimewaan lain dari situs ini adalah adanya tempat di sebelah kiri gapura yang sekarang biasa disebut “tempat kremasi”. Mengingat ukuran dan posisinya, tidak pelak lagi ini merupakan tempat untuk memperlihatkan sesuatu atau suatu kegiatan. Pemberian nama “tempat kremasi” menyiratkan harus adanya kegiatan kremasi rutin di tempat ini yang perlu diteliti lebih lanjut. Sangat boleh jadi perlu dipertimbangkan untuk menyelidiki tempat ini sebagai semacam altar atau tempat sesajen.

Pemerintah pusat sekarang memasukkan komplek Situs Ratu Boko ke dalam otorita khusus, bersama-sama dengan pengelolaan Candi Borobudur dan Candi Prambanan ke dalam satu BUMN, setelah kedua candi terakhir ini dimasukkan dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO. Sebagai konsekuensinya, Situs Ratu Boko ditata ulang pada beberapa tempat untuk dapat dijadikan tempat pendidikan dan kegiatan budaya.

Terdapat bangunan tambahan di muka gapura, yaitu restauran dan ruang terbuka (Plaza Andrawina) yang dapat dipakai untuk kegiatan pertemun dengan kapasitas sekitar 500 orang, dengan vista ke arah utara (kecamatan Prambanan dan Gunung Merapi). Selain itu, pengelola menyediakan tempat perkemahan dan trekking, paket edukatif arkeologi, serta pemandu wisata.

Sumber: jayagila.wordpress.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...