Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Puisi Pegawai Negeri

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVu1ZUz0oVtTQbNoVvNkdfouAPIkkV-C9-b4yzQoOyuX24xLHvblsQutgSmhx9F9Ap1dYSc6xB5H_2G1lTgd8klfn0IZdTsvQzUTXkW6JxUOTr1WWFneUlQe6z4BIvAlr02eKrK0qnmm9I/s1600/KORPRI+STARS.jpg


Pegawai Negeri

Setiap kami menyaksikan berbagai penghargaan diberikan
Di istana negara, dalam macam-macam upacara
Satu saja yang tak tampak di layar kaca
Penyerahan medali dan selempang warni-warna pada



Pegawai Negeri
Paling Jujur
Tahun Ini


Wakil dari mereka yang tak pernah kecukupan dalam rezeki
Wakil dari mereka yang sudah luluh dalam keluh
Anak-anak berlahiran juga, nafkah selalu payah
Dalam pemilihan umum selalu diancam macam-macam
Tak pandai ngobyek, tak disertakan dalam proyek
Dalam kalkulasi hidup mana pernah bisa cukup
Tapi ajaib tak sampai terdengar bergeletakan kelaparan
Ada saja jalan keluar yang meringankan beban
Anak-anak pun tahu diri orang tua pegawai negeri
Susah payah sekolah dan kuliah, dan kok ya jadi
Insinyur, dokter, pengacara, S-dua dan Pi-Eic-Di
Lumayanlah, walau tak sangat banyak barangkali
Apabila di dunia ada tujuh macam keajaiban
Maka fenomena pegawai negeri sini mesti yang ke delapan
Menurut teori mutakhir administrasi dan metoda renumerasi
Mestinya di awal karier dulu dari dunia sudah permisi
Memang ada yang terlibat proyek dan bersiram komisi
Tapi itu ‘kan jumlahnya terbatas sekali, yakni
Mereka yang berkerumun di sekitar keran pembangunan

Selebihnya hidup rutin ya begitu itu
Dan pastilah ada juga yang jujur secara sejati
Yang membuat lentur tegang-kakunya prosedur
Bukan mempersukar-sukar, justru memudahkan urusan
Yang betul-betul melayani rakyat, bukan budak kekuasaan
Yang susah payah istikomah di dalam kehalalan rezeki
Yang menahankan pedihnya susah nafkah
Yang masih saja bisa bertahan dilanda arus materi
Mereka tak tampak oleh mata kami
Mereka bukan tipe mengeluh-mengadu ke sana ke mari
Mungkin karena maqamnya sudah mirip orang sufi
Siapa tahu mereka lah sebenar penyangga struktur ini
Yang begitu lapuk rayap dan roboh sudah mesti
Tapi sampai sekarang masih juga berdiri
Mereka sungguh kami hormati
Terutama para guru yang begitu sabar menyebar ilmu
Dan semua yang berdedikasi sejati di struktur birokrasi
Masih tetap bertahan diterjang gelombang hidup serba materi
Kalian tidak nampak, karena memang merundukkan diri.

1998
Taufik Ismail

KISAH ORANG KAYA DAN ORANG MISKIN - Apa yang anda pelajari?















Suatu hari

Seorang ayah dari keluarga yang kaya mengajak anak lelakinya pergi ke suatu daerah untuk memberi pengalaman kepada anak lelakinya tentang bagaimana kehidupan masyarakat miskin. Mereka menghabiskan beberapa hari dan malam diperkampungan untuk merasakan kehidupan keluarga miskin.

Dalam perjalanan pulang, si ayah bertanya pada anak lelakinya, "Bagaimana pengalamannya?"
Anaknya menjawab, "Ini menyenangkan, Ayah."

"Apakah kamu biasa melihat kehidupan orang miskin?" tanya si Ayah.
"Oh Ya," jawab anak lelaki.
"Jadi, katakan padaku, apa yang kamu pelajari dari pengalaman ini?" tanya si Ayah

Jawab si anak:
"Aku melihat bahawa kita punya 1 ekor anjing dan mereka punya 4 ekor anjing.
Kita punya kolam renang yang menjangkau taman kita dan mereka punya teluk yang tak berujung. Kita punya lampu taman buatan luar negeri dan mereka punya bintang dilangit malam. Teras belakang kita menjangkau pekarangan dan mereka punya seluruh alam semesta. Kita punya sejengkal tanah untuk hidup dan mereka punya ladang luas untuk hidup selamanya. Kita ada banyak pembantu yang melayani kita, tapi mereka saling melayani. Kita selalu membeli makanan, tapi mereka menyediakannya sendiri.
Kita punya dinding-dinding untuk melindungi harta benda kita, mereka punya teman untuk melindungi mereka."

Si Ayah hanya terdiam terpaku
Lalu si anak menambahkan, "Terima kasih Ayah karena menunjukkan betapa miskinnya kita!"

(Apa yang anda pelajari dari cerita ini?)

Sumber: http://coachfauzi.blogspot.com

Kekasih Maya


13224658861425534305
courtesy of dytautami.wordpress.com

Dia tidak akan menyangka. Tentu dia tak akan menyangka, namanya saja kejutan.
Dia yang kumaksud adalah Teddy. Teddy, kekasihku. Sebenarnya dia “hanya” kekasih mayaku. Kami belum pernah saling bertemu. Tapi kami sudah sangat akrab di dunia maya. Bermula dari pertemuan di sebuah ruang chatting umum, lalu akhirnya kami sering suka mojok sendiri. Ungkapan-ungkapannya, diksi yang digunakannya, aku menyimpulkan kami punya visi yang sama.

Kami sama-sama tertarik pada isu pendidikan. Bagaimana  memajukan bangsa ini. Dari diskusi ke diskusi lainnya. Aku guru, dia wartawan dan tentunya masih bujangan. Bujangan yang bisa dikatakan lapuk, karena usianya sudah 34 tahun. Beda 7 tahun dariku yang baru menginjak 27. Aku kebetulan mendapat beasiswa di Inggris. Namun jarak Inggris-Indonesia yang terpisahkan samodera luas tak ada artinya bagi kami.

Kami sudah dua tahun membina komunikasi yang cukup dekat walau hanya di dunia maya, menjadi sangat akrab, sampai akhirnya saling memanggil “sayang”.  Aku biasa chatting dengannya di sela-sela kuliah. Dia biasanya di sela-sela melakukan tugas editing koran.  Rutinitas itu kami lakukan tiap hari, dan kami seakan tidak bosan. Selalu saja ada yang bisa dibicarakan. Dia adalah orang yang sangat asyik. Aku mabuk kepayang dibuatnya.

Dan kejutan yang kumaksud adalah kedatanganku ke kotanya. Sssst… sebenarnya kepulanganku ke Indonesia juga tak kuberitahukan padanya. Aku ingin ini benar-benar kejutan untuknya.

“Aku tak sabar untuk bertemu denganmu, Vita,” ujar Teddy suatu ketika saat kami chatting.

“Akupun begitu, mas,”  ujar dia.

“Kapan ya kita bisa ketemu, kapan aku bisa memelukmu, dan bukan hanya mengirimkan emoticon ‘hug’?” rengeknya. Dan aku pun tersanjung. Melambung.

Teddy sering bercerita tentang sebuah taman di kotanya. Taman yang sangat ideal untuk memadu kasih. Dia bercerita, sering pergi ke taman untuk menulis. Pernah suatu ketika, kami saling menggunakan webcam, dan aku melihat Teddy dengan latar belakang taman yang indah. Ya, taman ini.

Aku tinggal di kota lain di Indonesia. Jadi aku hanya bisa membayangkan saja, atau melihat foto-foto yang dikirimkan Teddy padaku. Namun hari ini aku benar-benar ada di taman itu. Aku sengaja tak menghubunginya dulu. Aku ingin menghubunginya ketika sudah berada di taman. Pertemuan di taman ini tentu akan menjadi momentum yang sangat romantis. Taman ini akan menjadi saksi pertemuan pertamaku dengan kekasih mayaku. Taman ini juga akan menjadi saksi bisu tempat kami melepas rindu, setelah sekian tahun terlibat cinta yang memabukkan di dunia maya.

Huuh betul kata Teddy. Kelemahan taman ini adalah bangku taman yang kurang banyak. Sementara untuk duduk di rerumputan, aku akan berpikir panjang. Jangan-jangan jeans kesayanganku akan basah oleh embun. Maka aku pun mencari lokasi yang nyaman dan sejuk di pinggir danau. Sayang bangku yang kuincar sudah ditempati seorang ibu muda dan anak bayi laki-lakinya yang montok.

Kucoba menyapa mereka, walau sebenarnya dalam hati aku berharap mereka segera pergi, agar aku bisa leluasa menguasai bangku itu. “Halooo… si ganteng, siapa namamu? Boleh tante ikut duduk?”

Sang ibu muda langsung mengembangkan senyum. “Silakan… bangkunya masih luas. Namanya Dante.”

Aku pun menghempaskan bokongku di bangku besi dengan akas kayu itu. Aku bersalaman dengan ibu muda itu, yang kutaksir berumur kira-kira 24 atau 25 tahun tahun,   lebih muda beberapa tahun dariku. Dia manis juga.

“Vita.”

“Dania.”

“Tamannya indah ya Mbak?” ujarku berbasa-basi.

“Begitulah, indah sekali. Ini tempat favorit kami dan orang-orang di kota ini,” jelas Dania. “Mbak Vita bukan orang sini?”

“Hehehe saya memang bukan orang sini, Mbak. Tapi sudah banyak mendengar tentang taman ini.”
“Oooh begitu… sedang menunggu teman?”

“Iya… eh enggak. Tepatnya saya sedang mau mengajak teman yang tinggal di kota ini untuk bertemu di sini. Tapi orangnya belum saya hubungi.”

“Oooh mau kasih kejutan ya?” tebak Dania sambil mengedipkan sebelah mata sebelum menyuapi bayinya, suapan terakhir.

“Begitulah,” ujarku tersipu.

“Baiklah… silakan kalau begitu. Kami pamit dulu, tuh ayahnya Dante udah jemput,” ujar Dania sambil beranjak, sembari  menunjuk sesosok laki-laki yang menghampiri kami dari arah belakangku.

Aku menoleh. Terkesiap. Jantungku hampir copot. Persendianku lunglai.
Aku melihat samar-samar sosok yang sangat kukenal.
Dia juga terkesiap.
Dia adalah: Teddy.

Niken Satyawati\
Sumber: http://fiksi.kompasiana.com

Aku Mabuk Allah

Aku mabuk Allah.
Semata-mata Allah.
Segala-galanya Allah.
Tak bisa lain lagi.

Aku mabuk Allah
lainnya tak berhak dimabuki.
Lainnya palsu
lainnya tiada.

Nyamuk tak nyamuk kalau tak mengabarkan Allah.
Langit tak langit kalau tak menandakan Allah.
Debu tak debu badai tak badai kalau tak membuktikan Allah.
Kembang tak mekar api tak membakar kalau tak Allah.

Mabuklah aku mabuk Allah.
Tak bisa lihat tak bisa dengar cuma Allah cuma Allah.
Kalau matahari memancar siapa sebenarnya yang menyinar. Kalau malam legam siapa hadir di kegelapan.
Kalau punggung ditikam siapa merasa kesakitan.

Mabuklah aku mabuk Allah.
Kalau jantung berdegup siapa yang hidup.
Kalau menetes puisi siapa yang abadi.
Allah semata.
Allah semata lainnya dusta



oleh: Emha Ainun Najib



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7TngqA0UbpfCla-kMrbfYVa8-ylkllElyRAlc8uJsO6LTgjvVA35O_v44_STmwwBQqRhR-ReUnncXEwCt_2Bv8a4xtIOofI7LzNxbBaNWmWbo57AYoDPyuUGS_0wzdqUJa_1CmSQs7FU/s1600/emha-ainun-najib.jpg

APAKAH SAMPAI PADAMU BERITA TENTANG MAHA NAZI?

http://images.ixora68.multiply.com/image/16/photos/12/500x500/13/201132499-f3a177ef97-o.jpg?et=Ff9RIHhJBxJLfuRlGUit9g&nmid=128328961

Kabar apakah yang sampai padamu tentang Palestina?
Apakah sampai padamu berita
tentang rumah-rumah yang dihancurkan
tanah-tanah meratap berpindah tuan,
bahkan manusia yang dibuldozer?

Apakah sampai padamu berita
tentang air mata yang tumpah
dan menjelma minuman sehari-hari
tentang jadwal makan yang hanya sehari sekali
atau listrik yang menyala cuma empat jam sehari?

Apakah sampai padamu
berita tentang kanak-kanak yang tak lagi berbapak
tentang ibu mereka yang diperkosa atau diseret ke penjara?
Para balita yang menggenggam batu
dengan dua tangan mungil mereka
menghadang tentara zionis Israel
lalu tangan kaki mereka disayat dan dibuntungi

Apakah sampai padamu berita tentang masjidil Aqsha
di halamannya menggenang darah
dan tubuh-tubuh yang terbongkar
Peluru yang berhamburan di udara
menyanyikan lagu kematian menyayat nadi
kekejaman yang melebihi fiksi
dan semua film yang pernah kau tonton
di bioskop dan televisi
Kebiadaban yang maha nazi

Tapi orang-orang di negeriku masih saja mengernyitkan kening:
“Palestina? Untuk apa memikirkan Palestina?
Persoalan di negeri sendiri menjulang!”
Mereka bersungut-sungut tak suka
Membatu, tak jarang terpengaruh
menuduh pejuang kemerdekaan Palestina
yang membela tanah air mereka sendiri
sebagai teroris!

Duhai, maka kukatakan pada mereka:
Tanpa abai pada semua persoalan di negeri ini
Atas nama kemanusiaan: menyala-lah!
Kita tak bisa hanya diam
menyaksikan pagelaran maha nazi
sambil mengunyah menu empat sehat lima sempurna
dan bercanda di ruang keluarga
kita tak bisa sekadar
menampung pembantaian-pembantaian itu dalam batin
atau pura-pura tak peduli
Seorang teman Turki berkata:
mereka yang membatasi ruang kemanusiaan
dengan batas-batas negara
sesungguhnya belum mengerti makna kemanusiaan

Hai Amr Moussa tanyakan pada Liga Arab
belum tibakah masanya bagi kalian
bersatu, membuka hati, berani
berhenti mengamini nafsu Amerika
yang seharusnya kita taruh di bawah sepatu?

Hai Ban Ki Moon,
apakah Perserikatan Bangsa Bangsa itu nyata?
Sebab tak pernah kami dengar
PBB mengutuk dan memberi sanksi
pada maha nazi teroris zionis Israel
yang pongah melucuti kemanusiaan dan keberadaban
dari wajah dan hati dunia
Apakah kalian, apakah kita tak malu
Pada para syuhada flotilla, Rachel Corrie, Yoyoh Yusroh
dan George Galloway?

Karena sesungguhnya kita bisa melakukan sesuatu:
menyebarkan tragedi keji ini pada hati-hati yang bersih,
memberi meski sedikit apa yang kita punya
dan mendoakan Palestina

Apakah sampai padamu, berita tentang maha nazi itu?
Tentang Palestina yang bersemayam kokoh
di hati mereka yang diberi kurnia?

Seperti cinta yang tak bisa kau hapus
dari penglihatan dan ingatan,
airmata, darah, dan denyut nadi manusia
: Lawan Maha nazi!

(Helvy Tiana Rosa)

Makna Tembang Jawa "Ilir-ilir"

http://blog.hmns.org/wp-content/uploads/2009/01/jan-13-09-029.jpg
Ilir-ilir, ilir-ilir
tandure wus sumilir
tak ijo royo-royo
tak sengguh temanten anyar


Bait di atas di atas secara harafiah menggambarkan hamparan tanaman padi di sawah yang menghijau, dihiasi oleh tiupan angin yang menggoyangkannya dengan lembut. Tingkat ke-muda-an itu dipersamakan
pula dengan pengantin baru. Jadi ini adalah penggambaran usia muda yang penuh harapan, penuh potensi, dan siap untuk berkarya.

Bocah angon, bocah angon
penekno blimbing kuwi
lunyu-lunyu penekno
kanggo mbasuh dodot-iro


Anak gembala, panjatlah (ambillah) buah belimbing itu (dari pohonnya).
Panjatlah meskipun licin, karena buah itu berguna untuk membersihkan pakaianmu.
Buah belimbing yang seringkali bergigir lima itu melambangkan lima rukun Islam; dan sari-pati buah itu berguna untuk membersihkan perilaku dan sikap mental kita. Ini harus kita upayakan betapapun
licinnya pohon itu, betapapun sulitnya hambatan yang kita hadapi.
Anak gembala dapat diartikan sebagai anak remaja yang masih polos dan masih dalam tahap awal dari perkembangan spiritualnya. Konotasi inilah yang sering muncul seketika bila orang Jawa menyebut 'bocah angon'.
Namun pengertiannya dapat pula ditingkatkan menjadi pemimpin, baik pemimpin keluarga, tokoh masyarakat, ataupun pemimpin formal dalam berbagai tingkatan.

Dodot-iro, dodot-iro
kumitir bedah ing pinggir
dondomono, jlumatono
kanggo sebo mengko sore


Pakaianmu berkibar tertiup angin, robek-robek di pinggirnya.
Jahitlah dan rapikan agar pantas dikenakan untuk "menghadap" nanti sore.
"Sebo" adalah istilah yang dipergunakan untuk perbuatan 'sowan' atau menghadap raja atau pembesar lain di lingkungan kerajaan.
Makna pakaian adalah perilaku atau sikap mental kita.
Menghadap bermakna menghadap Allah.
Nanti sore melambangkan waktu senja dalam kehidupan, menjelang
kematian kita.

Mumpung padhang rembulane
mumpung jembar kalangane


Manfaatkan terang cahaya yang ada, jangan tunggu sampai kegelapan tiba. Manfaatkan keluasan kesempatan yang ada, jangan menunggu sampai waktunya menjadi sempit bagi kita.

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...